SCENE 1 Narator: Alkisah, ada sebuah kerajaan di pulau Jawa. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang bernama Prabu Tapa Agung. Beliau mempunyai 7 orang putri,tapi 5 diantara mereka sudah menikah dan sudah menjadi ratu di kerajaan lain. Lalu tersisa dua orang puteri yang bernama purbararang sang kakak dan purbasari sang adik. Purbararang memiliki tunangan yang bernama indra jaya,seorang anak dari menteri kerajaan. Pada suatu hari, karena Prabu Tapa Agung sudah tua,ia berpikir untuk menunjuk purbasari sebagai penggantinya karena ia bijaksana dan baik hati sedangkan kakaknya purbararang memiliki sifat buruk. Prabu Tapa Agung: Putri-putriku, aku kini sudah tua dan saatnya turun tahta. Aku akan menunjukmu, Purbasari, sebagai penggantiku. Purbararang (marah): Tapi aku kan lebih tua dari Purbasari, harusnya ayah memilihku Prabu Tapa Agung Tidak bisa, keputusanku sudah bulat. Purbasari yang akan menggantikanku SCENE 2 Narator: Kemarahan yang sangat memuncak membuat Purbararang ingin mencelakai adiknya sendiri. Purbararang Ini tidak adil! Seharusnya aku yang menggantikan ayah, bukan purbasari. (marah) Malam ini, aku harus menemui penyihir di desa SCENE 3 Narator: Purbararang bergegas ke pedalaman desa untuk menemui penyihir. Disana. Ia menceritakan apa yang terjadi dan meminta bantuan penyihir untuk mencelakai purbasari. Penyihir itu membuat sebuah ramuan beracun dan memberikannya ke purbararang. Penyihir menyampaikan bahwa ramuan ini akan membuat wajah purbasari menjadi jelek. Ramuan yang telah Purbararang dapat dari si Penyihir ia campurkan ke gelas minuman Purbasari, lalu ia berikan kepadanya. Purbararang: Sari, ini aku bawakan minuman buat kamu. Biar segar mumpung lagi panas gini cuacanya. Purbasari: Eh, Teteh. Jadi repot, terimakasih loh teh (Purbasari meminum ramuan itu) Narator: Tak lama setelah itu, Purbasari pergi bersama Purbarang hingga menjelang malam. Keesokan paginya, ada sesuatu yang aneh terjadi pada Purbasari. Kulitnya tidak lagi mulus dan penuh dengan bintik-bintik hitam. Purbasari: Ya Gusti! apa yang terjadi padaku?! Mengapa kulitku jadi begini? Purbararang: Astaga Sari, apa yang terjadi dengan mu? Kamu terukutuk! Prabu Tapa Agung: Ada apa ini?! Purbararang: Ayah, liat Sari. Dia jelas terkutuk dan menjadi jelek. Orang terkutuk seperti dia tidak pantas dan tidak layak untuk menjadi seorang ratu yang menggantikanmu, Ayah! Purbasari: Ayah, aku tidak tahu mengapa aku bisa seperti ini. Tolong jangan usir aku, jangan usir aku ayah Prabu Tapa Agung: Sari, apa yang sudah kamu lakukan?! Kamu tidak layak menggantikanku. Pengawal cepat asingkan dia ke hutan! Pengawal: “Muhun, Tuanku, bade ku abdi laksanakeun!” Narator: Maka diasingkanlah Purbasari ke hutan, jauh dari istana. Akhirnya, Prabu Tapa Agung menetapkan Purbararang sebagai calon penggantinya. SCENE 4 Pengawal: “Hapunten abdi, Gusti Putri.” Purbasari: Tidak apa, pengawal. Ini sudah menjadi keputusan ayahku Pengawal:“Mangga Gusti Putri cicing di gubuk ieu. Aya sababaraha persediaan kadaharan di jero, mugi-mugi cekap. Abdi nyuhunkeun pamit kanggo mulih deui, Gusti Putri.”. Purbasari: Baik, terimakasih Narator: Purbasari tinggal sendirian di gubuk itu. Menjalani hari-harinya untuk bertahan hidup di tengah hutan. Hingga suatu hari saat Purbasari sedang duduk santai di depan gubuknya, dia melihat seekor lutung yang muncul dari semak-semak. Purbasari (kaget): Astaga! Ada lutung! Hush! Lutung: Tuan putri, jangan takut. Purbasari: YA GUSTI! LUTUNGNYA BISA NGOMONG! Jangan dekat-dekat! Lutung (mendekat): Tuan putri, tolong jangan takut. Saya hanya ingin berteman, saya tidak menggigit kok. Saya hanya tersesat di hutan ini. Purbasari (agak ragu mendekat): Hmm baiklah. Lutung bisa tersesat ya ternyata? Narator: Akhirnya Purbasari dan Lutung itu berteman. Purbasari menjulukinya Lutung Kasarung, sebab dia adalah seekor lutung yang tersesat. Lutung Kasarung sangat perhatian pada Purbasari. Ia sering membawakan bunga-bunga indah dan buah-buahan yang segar untuk Purbasari. SCENE 5 Narator : Pada suatu malam bulan purnama, lutung kasarung pergi ke tempat sepi dan berdoa memohon kepada Tuhan. Tiba-tiba muncul sebuah telaga kecil di hutan itu Purbasari Lutung.. Apa yang kamu lakukan Lutung Kasarung Tuan putri, mandilah di telaga ini. Purbasari : mandi di telaga ini? Kenapa memangnya? Lutung kasarung Tuan putri akan tahu setelah tuan putri membasuhkan diri di telaga itu. Narator Akhirnya purbasari membasuh dirinya di telaga itu. Lalu sesuatu terjadi pada kulit purbasari. Kulitnya menjadi bersih dan cantik kembali. Purbasari Wah..apa yang terjadi padaku.. Kulitku kembali seperti semula.. Lutung, terima kasih. SCENE 6 Setelah beberapa bulan penobatan Purbararang sebagai ratu di kerajaan. Purbararang memutuskan untuk melihat kondisi adiknya di hutan, bersama tunangannya, Indrajaya. Ketika sudah sampai di hutan, betapa terkejutnya mereka. Purbararang memandang adiknya dan tak percaya ia sudah kembali seperti semula. Purbasari: Teteh? Kok kesini teh? Ada apa- Purbararang: Apa?! Bagaimana bisa kamu sembuh dan kembali seperti dulu lagi?! Purbasari: Aku tidak tahu, teh. Semuanya terjadi begitu saja. Tetapi.. Ini artinya aku bisa kembali ke istana. Purbararang: Tidak! Tidak bisa, aku ini sudah dinobatkan menjadi seorang ratu, pengganti ayah ingat? Aku tidak ingin kau kembali ke istana. Purbasari: Harus bisa dong teh, ayah awalnya mempercayakan ku dan tidak ada yang bisa menentang amanat ayah. Aku harus kembali teh Purbararang: Baiklah, kalau begitu. Tapi nanti akan ada syarat yang harus kamu penuhi. Purbasari: Baiklah SCENE 7 Narator: Sampailah mereka semua di istana, Purbararang menyebutkan syarat yang harus dipenuhi Purbasari dalam sebuah kompetisi di hadapan seluruh rakyat dan sang raja. Purbararang: Ayah, ijinkan saya mengadakan sebuah kompetisi dengan Purbasari. Dia yang menang akan menjadi penerusmu, ayah. Prabu Tapa Agung: Baiklah, putriku. Ayah setuju Purbararang: Sari, jika kau benar-benar ingin ke kembali ke istana dan bahkan menggantikan ku sebagai seorang ratu yang sebagaimana mestinya sesuai amanat Ayah. Kita ada beradu dalam sebuah kompetisi. Coba ulurkanlah rambutmu, Sari. Rambut yang terpanjang akan memenangkan babak pertama Narator: Purbasari mulai tidak yakin, ia merasa rambutnya tidak sepanjang rambut kakaknya itu. Purbararang (setelah ulur rambut): Ayo ulurkanlah rambutmu, Sari. Narator: Lutung yang juga menyadari hal ini, berdoa pada Yang Maha Kuasa dalam diam. Supaya panjang rambut Purbasari bisa melebihi Purbararang. (Purbasari mengulurkan rambutnya) Narator: Benar saja, panjang rambut Purbasari melebihi rambut Purbararang. Maka kompetisi pertama dimenangkan oleh Purbasari. Purbararang tidak menyangka akan hal ini, ia segera lanjut ke kompetisi kedua SCENE 8 Narator Selanjutnya kompetisi yang kedua, dimana Purbasari dan Purbararang akan adu ketampanan pasangan masing masing. Purbararang Baiklah, bagaimana jika kita adu ketampanan tunangan kita? Mana tunanganmu? Purbasari (tanpa sadar menarik lengan lutung) ini, inilah tunanganku Purbararang Jadi monyet itu tunanganmu? (tertawa) Narator Dengan seketika, saat purbararang dan indrajaya tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba mereka terkejut melihat sosok lutung yang berubah menjadi pangeran tampan. Lutung Akulah wujud asli dari seekor lutung. Dan aku akan segera menikahi purbasari Purbararang Apa? Tidak mungkin! Lutung Aku adalah seorang pangeran yang berasal dari kayangan. Kutukanku kini berakhir karena seorang gadis mencintaiku dengan hati yang tulus. Dan gadis itu adalah purbasari. Purbararang Apa?! Lalu untuk apa aku memasukkan racun kedalam minuman purbasari jika akhirnya dia menemukan kebahagiaannya. Ini tak adil! SCENE 9 Full Narator: Terungkaplah perilaku jahat Purbararang yang menyebabkan penyakit Purbasari. Ia diusir oleh raja Prabu Tapu Agung bersama dengan Indrajaya dan menobatkan Purbasari sebagai sang Ratu. Akhirnya Purbasari dan Lutung Kasarung hidup bahagia dalam kerajaan tersebut. Demikian drama cerita Lutung Kasarung yang dapat kami persembahkan. Sekian, Terima Kasih atas perhatian bapak/ibu guru.
ADEGAN 1 Narator: Jaman baheula, aya hiji karajaan di Pulo Jawa. Karajaan ieu dipingpin ku hiji raja anu namina Prabu Tapa Agung. Anjeunna boga 7 putri, tapi 5 di antarana geus nikah jeung geus jadi ratu di karajaan séjén. Lajeng aya dua putri, namina Purbararang, adina, jeung Purbasari, adi adi. Purbararang boga tunangan nu ngaranna Indra Jaya, putra mentri karajaan. Dina hiji poe, lantaran Prabu Tapa Agung geus sepuh, manehna mikir pikeun ngangkat Purbasari jadi gagantina sabab geus wijaksana tur soleh sedengkeun lanceukna Purbararang boga sipat anu goreng. Prabu Tapa Agung: Para putri, abdi ayeuna tos sepuh sareng waktosna turun tahta. Abdi badé nunjuk anjeun, Purbasari, salaku gaganti abdi. Purbararang (ambek) : Tapi aing mah leuwih kolot ti Purbasari, kuduna bapa milih Prabu Tapa Agung Henteu, kaputusan kuring parantos dilakukeun. Purbasari bakal ngaganti kuring ADEGAN 2 Narator: Amarahna kacida pisan nepi ka Purbararang hayang nganyenyeri adina sorangan. Purbararang Ieu teu adil! Kuduna mah ngaganti bapana, lain Purbasari. (ambek) Peuting ayeuna, kuring kudu papanggih jeung dukun di kampung ADEGAN 3 Narator: Purbararang buru-buru ka jero kampung nepungan dukun. Tuh. Anjeunna nyaritakeun naon anu lumangsung sarta ménta tulung ka dukun pikeun ngarugikeun Purbasari.Dukun nyieun ramuan anu beracun sarta dibikeun ka purbararang. Ceuk tukang sihir, ramuan ieu bakal nyieun beungeut Purbasari awon. Anjeunna nyampur ramuan anu dicandak Purbararang ti Dukun kana gelas nginum Purbasari, teras masihan ka anjeunna. Purbararang: Sari, kuring mawa anjeun inuman. Hayu urang tetep seger bari hawa panas kieu. Purbasari: Eh, Teteh. Janten repot, hatur nuhun Teh (Purbasari nginum ramuan) Narator: Teu lila ti harita, Purbasari indit jeung Purbarang nepi ka soré. Isukna, aya kajadian nu anéh ka Purbasari. Kulitna henteu deui mulus tur pinuh ku bintik-bintik hideung. Purbasari: Duh Gusti! naon anu lumangsung ka kuring?! Naha kulit abdi sapertos kieu? Purbararang: Gosh Sari, naon anu lumangsung ka anjeun? Anjeun dikutuk! Prabu Tapa Agung: Naon ieu?! Purbararang: Pa, tingali ka Sari. Anjeunna jelas dilaknat sarta jadi awon. Jalma anu dilaknat sapertos anjeunna henteu pantes sareng henteu pantes janten ratu di tempat anjeun, Bapa! Purbasari: Pa, abdi henteu terang naha abdi tiasa sapertos kieu. Tong miceun abdi, ulah miceun bapa Prabu Tapa Agung: Sari, naon anu anjeun lakukeun?! Anjeun teu pantes ngaganti kuring. Penjaga gancang ngasingkeun anjeunna ka leuweung!Pangawal: "Muhun, abdi, abdi bade melakkeun!" Narator: Ku kituna Purbasari diasingkeun ka leuweung, jauh ti karaton. Ahirna Prabu Tapa Agung ngangkat Purbararang jadi calon panggantina. ADEGAN 4 Pangawal: "Hapunten abdi, Gusti Putri." Purbasari: Teu kunanaon, hansip. Ieu geus kaputusan bapana Penjaga: "Mangga Gusti Putri cicing di eta gubuk. Aya sababaraha bebekelan tuang di jero, mugi-mugi cekap. Abdi nyuhunkeun pamit mulih deui, Gusti Putri.". Purbasari: OKÉ, nuhun Narator: Purbasari cicing waé di gubug. Hirup poéna salamet di tengah leuweung. Nepi ka hiji poé Purbasari keur diuk anteng hareupeun gubugna, manéhna nempo hiji lutung kaluar tina rungkun. Purbasari (reuwas): Duh! Aya langur! Hush! Langur: Putri, tong sieun. Purbasari: ENYA GUSTI! TUNGTUNG BISA NYETEK! Ulah ngadeukeutan! Langur (deukeut): Putri, punten ulah sieun. Abdi ngan hoyong janten babaturan, abdi teu bit. Kuring ngan leungit di leuweung ieu. Purbasari (rada ragu ngadeukeutan): Hmm, oke. Langurs bisa leungit, bener? Narator: Ahirna Purbasari jeung Lutung jadi babaturan. Purbasari jujuluk Lutung Kasarung, sabab anjeunna lutung sesat. Lutung Kasarung kacida merhatikeunana ka Purbasari.Manéhna mindeng mawa kembang éndah jeung buah seger ka Purbasari. ADEGAN 5 Narator: Peuting bulan purnama, lutung Kasarung indit ka tempat anu sepi sarta neneda ka Allah. Ujug-ujug aya situ leutik mucunghul di leuweung Purbasari Lutung.. Keur naon Kasarung Langur Putri, mandi di ieu situ. Purbasari : Mandi di ieu situ? Émang kunaon? Kasarung langur Putri bakal terang saatos putri ngumbah dirina di danau. Narator Ahirna Purbasari nyeuseuh diri di situ. Lajeng aya kajadian dina kulit Purbasari. Kulitna jadi beresih jeung geulis deui. Purbasari Wah... aya naon atuh... Kulitna normal deui... Lutung, hatur nuhun. ADEGAN 6 Sanggeus sababaraha bulan Purbararang dinobatkeun jadi ratu karajaan. Purbararang mutuskeun ningali kaayaan adina di leuweung, jeung tunanganna, Indrajaya. Sabot anjog ka leuweung, kumaha reuwasna. Purbararang neuteup lanceukna teu percaya geus normal deui. Purbasari: Masih keneh? Naha anjeun ka dieu? Aya naon- Purbararang: Naon?! Kumaha anjeun tiasa pulih sareng uih deui ka cara anjeun baheula?! Purbasari: Abdi henteu terang, tea. Sagalana ngan kajadian. Tapi... Ieu hartina kuring bisa balik deui ka karaton. Purbararang: Henteu! Abdi henteu tiasa, abdi parantos dinobatkeun ratu, gentos bapa, émut?Abdi henteu hoyong anjeun uih deui ka karaton. Purbasari: Anjeun kudu bisa ngalakukeun eta, bapa mimitina amanat kuring jeung teu aya nu bisa ngalawan amanat bapa. Abdi kedah uih deui tea Purbararang: OKÉ, teras. Tapi engke bakal aya sarat-sarat anu kudu dicumponan. Purbasari: OKÉ ADEGAN 7 Narator: Saparantos dugi ka karaton, Purbararang nyebatkeun sarat-sarat anu kedah dicumponan ku Purbasari dina sayembara di payuneun sakumna rahayat sareng raja. Purbararang: Bapa, hayu atuh ngayakeun pasanggiri jeung Purbasari. Anu meunang bakal jadi pangganti anjeun, bapa. Prabu Tapa Agung: Muhun, putri abdi. Bapa satuju Purbararang: Sari, lamun bener-bener hayang mulang ka karaton malah ngaganti kuring jadi ratu sakumaha kuduna nurutkeun amanat bapana. Urang bersaing dina kompetisi. Coba manjangkeun buuk, Sari. Rambut pangpanjangna bakal meunang babak kahiji Narator: Purbasari mimiti teu yakin, manéhna ngarasa yén buukna teu panjang adina. Purbararang (sanggeus manjangkeun buuk): Hayu, anjangkeun buuk, Sari. Narator: Lutung anu sadar ogé, neneda ka Nu Maha Kawasa dina tiiseun. Sangkan panjang buuk Purbasari bisa ngaleuwihan Purbararang. (Purbasari ngacungkeun buuk) Narator: Tangtosna, rambut Purbasari langkung panjang tibatan Purbararang. Jadi pasanggiri kahiji dimeunangkeun ku Purbasari.Purbararang teu nyangka, manéhna langsung neruskeun pasanggiri kadua ADEGAN 8 Narator Satuluyna pasanggiri anu kadua, di mana Purbasari jeung Purbararang baris bersaing pikeun kaéndahan pasangan masing-masing. Purbararang OKÉ, kumaha upami urang bersaing sareng penampilan alus tunangan urang? Mana tunangan anjeun? Purbasari (teu sadar narik panangan lutung) Ieuh tunangan abdi Purbararang Jadi monyét téh tunangan anjeun? (seuri) Narator Sakedapan, nalika Purbararang sareng Indrajaya seuri. Ujug-ujug maranéhna reuwas ningali sosok lutung nu geus robah jadi pangeran ganteng. Langur Abdi wujud lutung sajati. Sareng abdi badé nikah sareng Purbasari Purbararang naon? Mustahil! Langur Abdi pangeran ti sawarga. Kutukan kuring ayeuna parantos lekasan sabab awéwé mikanyaah kuring kalayan haté anu tulus. Jeung éta mojang téh Purbasari. Purbararang Naon?! Teras naha abdi bakal nempatkeun racun dina inuman Purbasari lamun tungtungna kapanggih kabagjaan dirina. Ieu teu adil! ADEGAN 9 Narator lengkep: Kalakuan jahat Purbararang kaungkab nu ngabalukarkeun Purbasari gering. Manéhna diusir ku raja Prabu Tapu Agung bareng jeung Indrajaya sarta dinobatkeun Purbasari jadi Ratu. Ahirna Purbasari jeung Lutung Kasarung hirup bagja di karajaan. Nya éta carita drama Lutung Kasarung anu bisa urang pidangkeun.Sakitu wae, hatur nuhun kana perhatosanana Bapak/Ibu guru.
Semua data terjemahan dikumpulkan melalui Kamussunda.com. Data yang dikumpulkan terbuka untuk semua, dibagikan secara anonim. Oleh karena itu, kami mengingatkan Anda bahwa informasi dan data pribadi Anda tidak boleh disertakan dalam terjemahan Anda menggunakan Penerjemah Sunda. Konten yang dibuat dari terjemahan pengguna Kamussunda.com juga gaul, tidak senonoh, dll. artikel dapat ditemukan. Karena terjemahan yang dibuat mungkin tidak cocok untuk orang-orang dari segala usia dan segmen, kami menyarankan Anda untuk tidak menggunakan sistem Anda jika Anda mengalami ketidaknyamanan. Penghinaan terhadap hak cipta atau kepribadian dalam konten yang ditambahkan pengguna kami dengan terjemahan. Jika ada elemen, pengaturan yang diperlukan akan dibuat jika terjadi →"Kontak" dengan administrasi situs. Proofreading adalah langkah terakhir dalam mengedit, dengan fokus pada pemeriksaan tingkat permukaan teks: tata bahasa, ejaan, tanda baca, dan fitur formal lainnya seperti gaya dan format kutipan. Proofreading tidak melibatkan modifikasi substansial dari isi dan bentuk teks. Tujuan utamanya adalah untuk memastikan bahwa karya tersebut dipoles dan siap untuk diterbitkan.
Vendor pihak ketiga, termasuk Google, menggunakan cookie untuk menayangkan iklan berdasarkan kunjungan sebelumnya yang dilakukan pengguna ke situs web Anda atau situs web lain. Penggunaan cookie iklan oleh Google memungkinkan Google dan mitranya untuk menayangkan iklan kepada pengguna Anda berdasarkan kunjungan mereka ke situs Anda dan/atau situs lain di Internet. Pengguna dapat menyisih dari iklan hasil personalisasi dengan mengunjungi Setelan Iklan. (Atau, Anda dapat mengarahkan pengguna untuk menyisih dari penggunaan cookie vendor pihak ketiga untuk iklan hasil personalisasi dengan mengunjungi www.aboutads.info.)